Anak Aibon Entrop - Meminta-minta Untuk Ngelem


Jayapura, suaratifapapua.com,- Pengguna Lem Aibon atau yang biasa di sebut "Ngelem/Anak-anak Aibon" di kalangan anak-anak hingga dewasa, memang harus mendapat perhatian khusus dari semua kalangan, baik pemerintah, masyarkat maupun orang tua.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah, baik penertiban, maupun kegiatan - kegiatan untuk pemberdayaan, namun tidak cukup.


Situasi ini terlihat begitu nampak kala itu di terminal lama Entrop, meski demikian, mereka bukan tidak memiliki rumah atau keluarga ada yang hanya sekedar datang dan pergi, meski bagi beberapa orang mungkin iya, yang akhirnya tidur beralaskan koran, atau mencari emperan toko untuk tidur, sedangkan siang keluyuran untuk makan, sampai keluar masuk warung makan, namun beberapa di antaranya hanya untuk ngelem bersama teman-teman bukan tempat tinggal.

Tidak jarang, ada yang meminta-minta, atau bahkan membantu para pedagang kaki lima di malam hari, untuk sekedar mendapatkan imbalan 5000/1000 untuk kemudian di gunakan membeli lem aibon.


Salah satu diantarnya yang berbagi cerita yaitu AG, seorang gadis remaja (14thn), setiap hari bisa menghabiskan beberapa kaleng kecil lem aibon dalam sehari, sehingga jika tidak meminta-minta, kadang harus membantu warung makan di sekitar.

Di himpun dari salah laman yaitu , Efek yang ditimbulkan dari menghirup uap lem tersebut hampir sama dengan jenis narkoba lain, yaitu menyebabkan halusinasi, sensasi melayang-layang, dan rasa tenang sesaat meski terkadang efeknya hanya bisa bertahan hingga 5 jam saja. Selain itu, mereka yang “ngelem” juga tidak merasakan lapar karena ada penekanan sensor lapar di susunan saraf otak. Inhalen atau biasa yang disebut ngelem oleh anak-anak jalanan merupakan senyawa organik berupa gas dan pelarut yang mudah menguap. Inhalen mengandung bahan-bahan kimia yang bertindak sebagai depresan. Depresan memperlambat sistem saraf pusat, mempengaruhi koordinasi gerakan anggota tubuh, dan konsentrasi pikiran. Selain itu, inhalen juga bisa mengakibatkan kerusakan fisik dan mental yang tidak bisa disembuhkan.


http://fatimahdesta.blogspot.com/2015/08/bahaya-menghirup-lem-aibon.html?m=1

Pentingnya, informasi untuk perubahan perilaku bagi para pecandu aibon di jaman ini merupakan aksi penting, agar tidak ada lagi anak-anak dan remaja yang terjerumus kedalam situasi ini.

Penyadaran bagi para pecandu aibon, harus menjadi prioritas, agar mencegah terjadinya dampak-dampak buruk bagi anak dan remaja.

Related Posts:

KEAJAIBAN KELABBA MAJA DI Nusa Tenggara Timur



Masyarakat Indonesia patut berbangga dengan negerinya yang sangat indah, bahkan termasuk salah satu yang terindah di dunia, dengan banyaknya destinasi wisata yang cantik dan tak dimiliki negara lainnya.


Bukan hanya Bali, Lombok, Raja Ampat, Yogyakarta, Danau Toba, dan lainnya, tapi ribuan destinasi lainnya yang tak kalah indahnya. Sehingga tak salah bila tahun ini Indonesia kembali terpilih menjadi negara terindah ke enam dunia.



Hal itu sesuai hasil jajak pendapat Penerbit Rough Guides yang menilai Indonesia dari suasana perdesaan, ketenangan pulau terpencil, hingga puncak gunungnya. Sehingga Indonesia makin mengukuhkan diri sebagai destinasi wisata kelas dunia.


Dari sekian banyaknya tujuan wisata di Indonesia yang mungkin belum dikunjungi wisatawan lokal adalah 'Kelabba Maja,' yakni bukit warna-warni yang berada di Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Pulau Sabu (kadang disebut Sawu), Kecamatan Hawu Mehara, Kabupaten Sabu Raijua. Lokasinya berdekatan dengan pantai selatan Sabu.



Karena alamnya terdiri dari tebing warna-warni, tempat ini kerap dibandingkan dengan Zhangye Danxia yang disebut sebagai salah satu keajaiban alam negeri Tiongkok. Juga disetarakan dengan ngarai Grand Canyon yang jadi kebanggaan negeri Paman Sam. Tetapi jika dilihat dari kondisi alamnya, Kelabba Maja lebih mirip dengan Painted Hills yang berada di Oregon, Amerika Serikat.


Sama seperti Painted Hills, Kelabba Maja juga memiliki ciri khas berupa tebing serupa deretan tabung yang bercorak. Sekilas tampak seperti disapu dengan kuas raksasa. Kita bisa menemukan lapisan warna biru, putih, coklat, dan merah di antara bebatuan Kelabba Maja.

Selain bukit pelangi, Kelabba Maja juga memiliki beberapa batu keseimbangan yang dianggap sebagai perlambang ayah, ibu, dan anak. Ketiga batu ini berdiri dengan kokoh di pucuk tebing yang meruncing. Sehingga lokasi ini menjadi incaran foto yang instagramable.



Oleh penduduk setempat, Kelabba Maja dianggap sebagai tanah dewa, terutama warga desa Gelanalalu. Mereka percaya bukit penuh warna itu merupakan tempat berdiamnya dewa Maja. Di sana juga terdapat batu yang digunakan sebagai altar pemujaan bagi sang dewa, yang setiap tahun masih diadakan ritual penyembelihan kurban demi memohon perlindungan dari Maja.

Karena kesakralan bagi para penduduknya, maka tak heran bila pengunjung diminta untuk menjaga sikap saat berkunjung di lokasi tersebut. Berkata kotor merupakan salah satu larangan yang sebaiknya ditaati demi kenyamanan bersama.

Sayangnya seperti kebanyakan objek wisata yang nyaris masih perawan, Kelabba Maja juga sulit diakses. Untuk mencapainya, harus menempuh perjalanan dari Kupang ke Sabu. Lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki mendaki jalan bertanjakan selama 2 jam. Kondisi infrastruktur menuju kawasan ini masih belum terlalu memadai. Karenanya dibutuhkan fisik yang prima untuk mencapainya.

Oleh sebab itu Kelabba Maja dianggap kurang cocok untuk wisata bersama keluarga. Semoga Kementerian PUPR dapat segera membangun infrastruktur yang sesuai dengan kondisi alam yang dibutuhkan, namun tetap tak merusak keaslian alamnya, sehingga dapat semakin meningkatkan wisata dan perekonomian penduduk di sekitar Kelabba Maja.

"Salam NKRI Gemilang"
===================

Dikutip dari Facebook : Wahyu Sutono
Didedikasikan untuk para Traveling

Related Posts:

penandatanganan Nota Kesepahaman tentang pengembangan ekonomi kreatif dengan Pemerintah Kota Jayapura


Bandung (26/02) - Badan Ekonomi Kreatif melangsungkan penandatanganan Nota Kesepahaman tentang pengembangan ekonomi kreatif dengan Pemerintah Kota Jayapura di Hotel Aston, Bandung.

Penandatanganan diwakili oleh Deputi Hubungan Antarlembaga dan Wilayah, Ibu @endahwsulistianti dengan Kepala Dinas Pariwisata Jayapura, Bapak Matias Benoni Mano.



Selain penandatanganan Nota Kesepahaman, diselenggarakan Diskusi Kelompok Terpumpun Penguatan Kelembagaan Komisi Film Daerah (KFD). Diskusi ini mengevaluasi kendala-kendala terkait pembentukan KFD.



Diskusi ini dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Pemerintah Kota Bandung, Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta, Pemerintah Kota Jayapura, Bandung Film Council, dan Badan Perfilman Indonesia (BPI).

Sumber : Deputi Hubungan Antar Lembaga & wilayah

Related Posts:

MUSRENBANG DISTRIK JAPSEL USULKAN 109 KEGIATAN DENGAN TOTAL ANGGARAN Rp 44.453.000.000


WAKIL WALI KOTA JAYAPURA IR H RUSTAN SARU, MM MEMBUKA MUSRENBANG TINGKAT DISTRIK JAYAPURA SELATAN
JAYAPURAKOTA – Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) tingkat Distrik Jayapura Selatan usulkan total 109 kegiatan dengan total anggaran Rp Rp 44.453.000.000 untuk tahun 2020. Wakil Wali Kota Jayapura Ir H Rustan Saru, MM mengingatkan urgensi pertumbuhan penduduk yang menjadi esensi diadakannya musrenbang.
“Kota Jayapura memiliki arus urbanisasi dan transmigrasi yang cukup massive, sebagai kota jasa dan kota pendidikan, dinamika penduduk akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Pentingnya musrenbang agar pembangunan tidak hanya berfokus di fisik saja melainkan pembangunan SDM di masyarakat,” katanya.
Data Dispendukcapil Kota Jayapura menunjukkan angka 418.518 jiwa pada pertengahan 2018 dan terus meningkat hingga menyentuh setengah juta. Lahan yang terbatas dengan jumlah penduduk yang kian bertambah, akan membuat alam semakin tereksploitasi dalam konotasi negatif. Jika dimanfaatkan dengan bijak maka pembangunan akan semakin memajukan ekonomi kerakyatan dan modernisasi menuju smart city.
PESERTA MUSRENBANG TINGKAT DISTRIK JAYAPURA SELATAN DARI KELURAHAN, PUSKESMAS, SEKOLAH, PKK DAN KOMUNITAS BINAAN LAIN.
Kepala Distrik Jayapura Selatan H Jaya Kusuma, SE, MM mengatakan bahwa musrenbang tersebut dapat menampung usulan peserta yang belum tercover.
“Usulan tersebut masih bersifat tentative yang bisa dicover oleh peserta musrenbang. Pentingnya musrenbang agar usulan kegiatan dapat memenuhi kebutuhan kegiatan di masing-masing kelurahan,” katanya.
Rekapitulasi usulan kegiatan di masing-masing kelurahan dan kampung meliputi bidang sarana dan prasarana fisik dengan 45 usulan kegiatan dan total anggaran yang diusulkan sebesar Rp 19.875.000.000. Bidang Sosial Budaya dengan 26 usulan kegiatan dan total anggaran sebesar Rp 6.553.000.000. Bidang ekonomi dengan 12 usulan kegiatan dan total anggaran sebesar Rp 2.000.472.000. Bidang pemerintahan umum dengan 27 usulan kegiatan dan total anggaran sebesar Rp 15.553.000.000. Total keseluruhan dana usulan dari akumulasi masing-masing bidang adalah Rp 44.453.000.000 dari 109 usulan kegiatan.
Musrenbang dihadiri Kepala Kelurahan Argapura, Kepala Kelurahan Numbay, Kelurahan Entrop, Kepala Kelurahan Hamadi dan Kepala Kelurahan Argapura. Kemudian, Kepala Puskesmas Twano, Kepala Puskesmas Elly Uyo, Kepala Puskesmas Hamadi, para kepala sekolah di Distrik Jayapura Selatan dan perwakilan PKK Distrik Jayapura Selatan.

Sumber - HUMAS Kota Jayapura (26/2)

Related Posts:

SI Kecil Pejuang HIV & AIDS


Hidup dengan HIV di usianya yang masih 3 tahun, tak nampak di wajah Gadis Kecil ini, senyum cerianya seperti kebanyakan anak seusianya.

Dia mampu berbaur dan bermain dengan siapa saja, begitu akrab dan dekat tanpa rasa takut.

Bernyanyi, berlari dan bermain bahkan memberi semangat lebih bagi orang dewasa yang bukan seusianya.

Saat ini tinggal berdua bersama ibunya yang juga mengidap HIV, ayahnya telah meninggal.

Berjuang bersama ibunya bukan hal yang mudah, namun bersyukur banyak perhatian dan kasih sayang dari orang sekitar, bahkan dari petugas kesehatan yang selalu membantu dalam pengobatan.

Awal ibunya mengetahui bahwa mereka terinfeksi HIV memang kaget namun tidak membuat mereka down, apalagi saat ini gadis kecil ini memjadi alasan dan kekuatan untuk ibunya tetap bertahan hidup.

Seperti yang di sampaikan oleh Ibunya "dia memang sempat ada gatal-gatal tapi sudah sembuh, makan baik juga, banyak main, dia semangat skali, dia belum mengerti, tapi dia tetap mau kalo di kasih obat". Jadi apapun yang kita alami, kita tetap percaya pada Tuhan, karena Tuhan yang kasih kekuatan. Tidak ada yang mustahil.

Pentingnya dukungan bagi ODHA memberi harapan baru dan semangat baru untuk tetap berjuang melawan penyakit yang diderita.

Memahami HIV-AIDS dengan baik dan benar, agar tidak ada lagi stigma dan diskriminasi.

Penulis : Hiswita Pangau - Jurnalis Warga Kota Jayapura

Related Posts:

Kabupaten Nabire Juara 1 Jumlah Kasus HIV&AIDS /31 Desember 2018

Data Kasus HIV-AIDS Provinsi Papua per 31 Desember 2018 dengan 3 Kota/Kab Tertinggi.

1. Nabire  : 7291
2. Kota Jayapura : 6371
3. Jayawijaya : 6242

Bukan saatnya sibuk Berkomentar dan bertanya, siapa yang bertanggung jawab, atau siapa yang bekerja dan tidak bekerja, atau bahkan memunculkan persoalan baru dengan berbagai aksi yang tidak masuk di akal.

Ini data yang ada, percaya tidak percaya, harusnya ini menjadi dasar untuk terus berupaya.

Selalu di ibaratkan dengan fenomena gunung es. Jika ternyata ada yang belum terdata, ada yang belum jelas, itulah PR yang harus di kerjakan bersama.

Setiap bulan kasus bertambah, ARV tersedia di layanan kesehatan, namun tidak sedikit ODHA yang lost, tidak mau minum obat karena berbagai faktor. salah siapa?

Segala upaya dilakukan, baik Dinas Kesehatan, Petugas di Layanan Kesehatan, KPA, LSM maupun kelompok2 atau organisasi yang peduli.

Jika peduli, bergerak, jika ingin membuat sesuatu yang berbeda untuk menekan kasus HIV, tidak cukup dengan hanya bicara.

Hari ini mungkin ada satu nyawa yang terinfeksi, atau bahkan meninggal, tentu itu akan terjadi terus menerus, jika kita hanya Berteriak, Berkomentar tanpa Melakukan sesuatu.

Stigma dan diskriminasi masih melekat untuk ODHA, karena pemahaman yang kurang, namun tidak sedikit juga yang tidak peduli dengan informasi yang diberikan.

Jika ada kerja yang belum maksimal, seharusnya menjadi perhatian bersama.

Semoga, setiap elemen yang berperan penting dalam P2HA dapat meningkatakan kinerja, dan melihat isu ini sebagai prioritas yang harus di kerjakan bersama dengan melibatkan seluruh masyarakat. Agar masyarakat pun menyadari bahwa ini adalah tanggung jawab kita bersama.

Penulis : Hiswita Pangau - Jurnalis Warga Kota Jayapura

Related Posts:

Distrik Japsel Penyumbang Terbesar Sampah di Kota Jayapura

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Jayapura

Jayapura-suaratifapapua.com,- Dinas Lingkungan Hidup Kota Jayapura melakukan sosialisasi terkait Pengendalian Pencemaran Lingkungan Hidup kepada seluruh RT dan RW dikelurahan Hamadi, Kamis (21/2).

Ketty Kailola selaku kepala dinas lingkungan hidup menuturkan, "kegiatan ini dilakukan agar masyarakat Kota Jayapura menjaga kebersihan lingkungan mengingat jumlah sampah di Kota Jayapura terus meningkat yaitu 19,661 Ton per tahun", dan Distrik Jayapura Selatan merupakan penyumbang nomor satu dari sampah yang ada di Kota Jayapura".


Hasil kerajinan dari sampah yang didaur ulang 

Selain melakukan sosialisasi kepada masyarakat Dinas Lingkungan Hidup juga mengajak masyarakat untuk mendaur ulang sampah, dalam kegiatan ini juga beberapa hasil kerajinan daur ulang sampah ditunjukkan kepada semua RT dan RW yang hadir.

Penulis : Fince Womsiwor - Jurnalis Warga Kota Jayapura

Related Posts:

Muhammad Ilham Pejuang Tumor Pita Suara


Jakarta,- Muhammad Ilham adalah anak dari Kawan saya Fitria , usianya 6 tahun yang saat ini sedang di rawat di RSCM akibat tumor pita suara yang dideritanya.
Mereka tinggal di bengkulu, namun sejak Ilham di diagnosa mengidap tumor pitar suara, maka mereka untuk sementara pindah di Jakarta, untuk proses pengobatan Ilham, menurut informasi yang di dapat dari ibunya.
Rencananya Ilham akan di rujuk ke singapore untuk pengobatan lanjutan, namun keterbatasan dana menjadi salah satu faktor, sehingga belum mampu di lakukan.
Saat ini Ilham bernafas menggunakan bantuan selang, dengan berbagai daya upaya yang di lakukan oleh medis juga keluarga, berharap Ilham bisa segera pulih agar dapat kembali menikmati masa kecilnya.
Saat ini hari-harinya di lalui dengan proses pengobatan bahkan berbagai macam alat medis melekat di tubuhnya, namun keinginan sembuhnya begitu besar, bahkan masih terus memberi senyuman dalam kesakitan.
Jika ada kawan-kawan yang ingin membantu, boleh menghubungi ibunya Ilham via FB dan juga IG @iampejuangtumor .
Mohon doanya agar Ilham cepat sembuh, dan kembali ceria.
Mohon di share juga ya, karena sekecil apapun yang kita berikan, pasti memberi manfaat.

Penulis : Hiswita Pangau - Jurnalis Warga Kota Jayapura

Related Posts:

Puskesmas Hamadi Melakukan Kegiatan Mobile Layanan Kesehatan


Masyarakat sedang melakukan pemeriksaan darah

Jayapura,- Guna menuju Kota Jayapura yang sehat dan bahagia warganya, Sabtu (16/2) lalu, Puskesmas Hamadi melakukan kegiatan :
1.Pendataan Keluarga Sehat
2.Pemeriksaan Malaria
3.Pemeriksaan tekanan darah
4.Pemberian Obat kaki gajah
5.Pembagian Kelambu & Abate
6.VCT - Test HIV


Suasana Kegiatan Pemeriksaan Kesehatan

Tampak antusiasme warga masyarakat dikelurahan Hamadi, Fince Womsiwor sebagai ketua Multi Stakeholder Forum (MSF) menuturkan, "kegiatan seperti ini sangat penting mengingat sekarang Kota Jayapura sedang mengalami musim hujan, sehingga pihak kesehatan dalam hal ini puskesmas harus bergerak cepat sehingga masyarakat bisa bebas dari malaria dan penyakit-penyakit lainnya", dan kalau bisa kegiatan ini dilakukan secara berkelanjutan".
Suasana Kegiatan Pemeriksaan Kesehatan

Fince Womsiwor - Jurnalis Warga Kota Jayapura

Related Posts:

Tournament Volly - ROJALI CUP 1

Suasana Pembukaan Turnamen

Jayapura, -Tournament Volly Ball ROJALI CUP tahun 2019 yang akan berlangsung selama dua hari 13 dan 14 februari, di GOR Waringin Kotaraja.
Turnament ini dilakukan sebagai bagian dari perayaan Valentine Day atau dikenal dengan Hari Kasih Sayang yang jatuh pada tanggal 14 februari.

Ini merupakan salah satu kegiatan untuk membangun solidaritas dan keakraban semua tim yang akan terlibat dalam pertandingan dengan menjunjung tinggi sportifitas sesama tim.
Enam tim yang akan bertanding adalah Dispora Kota Jayapura, Waringin VC, Galakxi FC, Meriang VC, Sejoli VC, Sentani VC.

Suasana Pembukaan Turnamen

Turnament ini dilakukan untuk pertama kali di Kota Jayapura, dan juga sebagai kesempatan untuk meningkatkan semangat olahraga khususnya Bola Voli, dan memberikan kesempatan kepada untuk mengembangkan bakat di bidang bola Voli.

Piala Yang diperebutkan

Sehingga melalui turnament ini, tidak hanya piala bergilir yang di perebutkan, namun bertanding secara sportif dengan menjunjung tinggi nilai persaudaraan sesama tim.
Pentingnya Kasih Sayang, memang tidak hanya pada perayaan Valentine namun adalah untuk, menumbuhkan rasa dan sikap saling menghargai sesama tanpa melihat perbedaan. 
Seperti yang disampaikan oleh Mari Peres selaku panitia pelaksana, bahwa Pertandingan ini bukan soal siapa yang hebat, siapa yang akan membawa pulang piala, namun juga sebagai aksi kepedulian dan kebersamaan dengan sesama. Itu intinya, jadi melalui olahraga, kita bersama menjunjung rasa kemanusiaan tanpa memandang perbedaan.

Suasana Pertandingan ROJALI Cup 1




Penulis : Hiswita Pangau - Jurnalis Warga Kota Jayapura

Related Posts:

Kelompok Dukungan Sebaya (KDS +) Kewom Winggir - Kabupaten KEEROM


KEEROM,- Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Keerom melaksanakan Pertemuan Rutin Kelompok Dukungan Sebaya (KDS+), bertempat di Rumah Singgah Arso Kota 15/2 lalu, .

Pada 2018 telah dilakukan pembentukan KDS kemudian diberi nama Kewom Winggir yang berarti Matahari Bersinar, dan Mama Victoria sebagai Ketua KDS.
KDS (+) merupakan satu wadah yang di bentuk sebagai tempat berbagi sesama ODHA. 


Sehingga setiap peserta diberikan kesempatan untuk berbagi cerita, baik tantangan maupun keberhasilan dalam mengkonsumsi ARV. Namun tidak menutup kemungkinan untuk bercerita tentang persoalan lainnya, yang ingin diceritakan dengan membangun komitmen Kerahasiaan sesama ODHA.

Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) memang membutuhkan tempat untuk berbagi, dan atau hanya sekedar mendengarkan cerita pengalaman dari peserta lainnya, sebagai motivasi.

 
Pertemuan ini pun diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan diri untuk menerima status dan mampu membuka diri.
Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan dari Dinas Kesehatan Keerom, KPA Kabupaten Keerom, Petugas Kesehatan perwakilan dari beberapa Layanan kesehatan dan ODHA.
Meski tidak semua ODHA terlibat namun proses demi proses berjalan dengan baik.
Seperti yang disampaikan oleh Yusnita selaku staf KPA Kabupaten Keerom bahwa, ini merupakan pertemuan kedua setelah tahun lalu dilakukan pembentukan. Ini merupakan satu program yang penting, karena melalui kegiatan ini diharapkan setiap ODHA mampu berdaya dan berkarya. Meski awalnya tidak pecaya jika akan terbentuk, namun ternyata sudah berjalan dan hari ini merupakan pertemuan kedua.
Pada kegiatan ini juga, petugas kesehatan memberikan masukan dan dukungan kepada peserta, agar terus minum obat dan berfikir positif.
Dan melalui kegiatan ini, diharapkan tidak ada lagi stigma dan diskriminasi terhadap ODHA.
Karena ODHA butuh dukungan untuk tetap bertahan hidup, tidak cukup dengan pengobatan namun pendampingan serta dukungan dari keluarga dan kerabat serta masyarakat menjadi sangat penting. 

Penulis : Hiswita Pangau - Jurnalis Warga Kota Jayapura

Related Posts:

PPROSES PEMBUATAN SAGU



Melihat secara langsung proses pembuatan sagu di Kampung Yepase, distrik Depapre Kabupaten Jayapura. Melalui kerjasama dan tangan-tangan terampil dari awal proses hingga akhir, melihat gotong royong beberapa masyarakat, untuk hasil yang sempurna yaitu sagu yang baik untuk kemudian sebagai konsumsi atau di pasarkan.
Sagu merupakan makanan pokok bagi sebagian penduduk asli Papua yang berdomisili di pantai atau dataran rendah, beras sebagai sumber karbohidrat substitusi. Sedangkan saudara kita yang berada di pegunungan tengah ubi merupakan makanan pokok.




Seperti yang di kutip pada salah satu laman Litbang Pertanian bahwa dalam proses pembuatan tepung sagu, umumnya petani melakukan dengan cara yang sama.
Batang sagu yang akan diolah menjadi tepung dihancurkan dulu dengan cara pangkur menggunakan mesin seperti mesin parut kelapa. Hasil pangkur ini berupa serbuk-serbuk kayu halus.
Serbuk kayu tersebut diletakkan di pelepah sagu kemudian diberi air sambil serbuk sagu diremas-remas menggunakan tangan.



Proses ini membutuhkan banyak air, sehingga dilakukan di dekat mata air agar mempermudah proses.
Saat ini, sagu tidak hanya di olah menjadi papeda dan sagu bakar saja, namun berbagai macam jenis olahan baik kue, escream dan berbagai jenis makanan lainnya yang berbahan dasar sagu, sehingga menjadi sangat menarik.
Begitu juga papeda yang tidak hanya diminati masyarakat asli Papua, namun juga menjadi makanan favorit bagi masyarakat luar.
Proses pembuatan sagu memang tidaklah mudah, membutuhkan waktu dan tenaga serta kerjasama untuk menghasilkan sagu yang baik untuk di jual atau untuk di konsumsi.
Papua dengan kekayaannya, sudah seharusnya menjaga dan melestarikan hutan dan pohon sagu, agar dapat dinikmati oleh anak cucu kelak.


Penulis : Hiswita Pangau - Jurnalis Warga Kota Jayapura




Related Posts:

Perang Terhadap HIV terus digencarkan oleh Yayasan Harapan Ibu Papua



Jayapura'-- Guna mencegah laju perkembangan virus HIV di Kota Jayapura,(09/2019) Yayasan Harapan Ibu Papua bekerjasama dengan Puskesmas Yoka melakukan sosialisasi dan pemeriksaan HIV kepada penghuni Anjungan Merauke yang terletak di Expo Waena.


Pada kesempatan yang sama Hendrikus Amo selaku ketua Anjungan Merauke, menyampaikan bahwa mereka yang tinggal dianjungang tersebut berasal dari Kabupaten Merauke, Bovendigul, Mappi & Kabupaten Asmat, "kami sekitar 30 orang lebih cuma dikarnakan teman-teman yang lain ada aktifitas lain sehingga pada kesempatan ini belum semua melakukan test", Selain itu saya berterimakasih kepada YHI Papua yang sudah datang dan memberikan informasi tentang HIV sekaligus melakukan pemeriksaan yang dalam hal ini Puskesmas Yoka juga terlibat, "harapan saya kedepan kegiatan seperti ini terus dilakukan kepada semua warga di Kota Jayapura,supaya semakin banyak yang paham dan melakukan pemeriksaan HIV secara sukarela".


Penulis : Lince Amamehi - Jurnalis Warga Kota Jayapura

Related Posts:

HARI PRABANGSA NASIONAL - TUNTASKAN KASUS KEKERASAN JURNALIS


Banyak kasus kekerasan pada wartawan belum tuntas. Satu-satunya yang terungkap hingga ke dalangnya seperti pembunuh Prabangsa, justru diberi remisi.

Jurnalis tak perlu diistimewakan. Namun seperti Munir, Marsinah, Wiji Thukul, atau Novel Baswedan, mereka bekerja mewakili kegelisahan kita.

Ada yang sedang meliput kasus korupsi, penyelundupan BBM, atau yang meliput perang dari sisi kemanusiaan dan menolak jurnalisme "NKRI harga mati".

Mereka ini menganggap kewartawanan bukan semata soal pekerjaan atau sumber nafkah, namun jauh melampaui itu dan memilih jalan pedang.

Sementara kelompok wartawan lain memilih jalan bertabur bunga, menempel pada kekuasaan sebagai partisan, melayani kepentingan pemilik medianya, menandatangani MoU dengan industri sawit atau investor reklamasi dan properti.

Kombinasi uang rakyat dan korporasi itulah yang digunakan untuk mengongkosi sebuah pesta tahunan yang dengan gagah mereka sebut sebagai HARI PERS NASIONAL.

#HariPrabangsaNasional
#TuntaskanKasusKekerasanJurnalis

Penulis : Firqi Firmansyah - Spesialis Media

Related Posts:

Percayalah, perempuan butuh RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.


Jakarta,-- Siaran Pers Komnas Perempuan 'HOAX tentang RUU Penghapusan Kekerasan Seksual'
(6/2019).

Paska dorongan masyarakat secara nasional dari berbagai daerah pada aksi Pawai Akbar 8 Desember 2018 lalu oleh Gerakan Aksi Masyarakat Sipil, telah berhasil membuka dialog DPR-RI terutama Komisi 8 bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak agar membahas dan mengesahkan RUU tersebut. Hasil dari dialog tersebut adalah DPR-RI menaruh komitmen politik untuk membahas dan mengesahkannya pada masa Sidang 2019.

Namun akhir-akhir ini, terdapat penyebaran  HOAX diantaranya:

1. Pesan-pesan secara sistematis dan meluas bahwa RUU Penghapusan Kekerasan Seksual menyarankan perzinahan atau free sex, dan pesan-pesan negatif lainnya yang membuat kesalah-pemahaman masyarakat terhadap substansi dari RUU tersebut;

2. Pesan-pesan negatif tersebut mengakibatkan pro-kontra di masyarakat dan menjadi tidak berakhir dan tidak berujung pada penyelesaian;

3. Pesan-pesan tersebut beredar tanpa adanya konfirmasi, dialog, dan pembahasan yang sehat sehingga situasi menjadi tidak kondusif.

Prinsip kerja Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) adalah membangun situasi yang kondusif bagi perempuan Indonesia dari kekerasan berbasis gender, oleh karena itu melihat perlunya merespon situasi tersebut sebagai berikut.

1. Bahwa RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dilatarbelakangi oleh hambatan-hambatan yang dialami korban kekerasan seksual terutama perempuan dan anak dalam mengakses pemulihan dan keadilan;

2. Akibat dengan tidak adanya perlindungan hukum, para korban kekerasan seksual  dan keluarganya mengalami penderitaan terus menerus. Hukum yang berlaku hanya menempatkan kasus kekerasan seksual sebagai kasus kesusilaan, bukan sebagai kasus kejahatan;

3. Komnas Perempuan sepanjang tahun 2013-2017 menerima laporan 28.019 kasus kekerasan seksual yang dialami oleh perempuan dan anak-anak baik terjadi di ranah pribadi atau personal maupun komunitas (publik). Terdapat diantaranya 15.068 kasus kekerasan seksual yang terjadi di dalam rumah tangga (relasi personal) dan terdapat 12.951 kasus kekerasan seksual terjadi di ranah komunitas (publik);

4. Dampak yang dialami korban kekerasan seksual diantaranya kehamilan yang tak dikehendaki hingga lahirnya anak;

5. Korban terus bertambah diantaranya mengalami stress, depresi hingga gangguan jiwa dan percobaan bunuh diri;

6. Minimnya partisipasi masyarakat dalam mencegah dan menangani korban kekerasan seksual, perlu difasilitasi melalui regulasi sehingga mereka dapat optimal dalam memberikan dukungan penuh untuk menikmati hak-hak korban sebagai manusia dan warga negara;

7. Komnas Perempuan bersama Forum Pengada Layanan (Jaringan Organisasi Masyarakat Pendamping Perempuan dan Anak Korban Kekerasan) sejak tahun 2015 telah menyusun Draft RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (P-KS) dan draft tersebut sudah diserahkan ke Pimpinan DPR RI pada tahun 2016. Badan Legislasi DPR RI telah membahas draft tersebut dan melakukan beberapa perbaikan. Melalui Sidang Paripurna DPR RI, RUU itu disetujui sebagai RUU inisiatif DPR RI dan menunjuk Komisi 8 untuk memimpin pembahasan. Pada tahap ini Draft RUU P-KS sudah menjadi Naskah RUU P-KS yang akan dibahas oleh DPR RI bersama Pemerintah;

8. DPR RI sudah mengirimkan Naskah RUU kepada Pemerintah dan Presiden sudah menunjuk Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) sebagai leading sector pembahasan. Pemerintah sudah menyampaikan DIM (Daftar Inventaris Masalah) terkait RUU tersebut kepada Komisi 8;

9. Terhadap Naskah RUU dan DIM Pemerintah, Komnas Perempuan juga telah menyampaikan DIM (Daftar Inventaris Masalah) kepada Pimpinan Panitia Kerja (Panja) RUU P-KS di Komisi 8.

Bahwa hingga saat ini belum ada satupun regulasi di Indonesia yang secara spesifik memberikan jaminan perlindungan atas kasus kekerasan seksual. Oleh karenanya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual merespon darurat kekerasan seksual dan memperbaiki penanganannya yang lebih manusiawi dan bermartabat (yang menjadi prinsip-prinsip universal seluruh ajaran agama).

Untuk itu Komnas Perempuan mengajak dan menghimbau:

1. Pihak-pihak yang melakukan pembohongan publik dengan menyebarkan informasi yang tidak benar tentang RUU P-KS supaya segera menghentikan tindakannya, supaya situasi yang kondusif untuk penghapusan kekerasan seksual di Indonesia di tengah kondisi yang darurat kekerasan seksual ini, dapat diupayakan;

2. Masyarakat sebelum menyebarkan informasi, untuk klarifikasi, mengkonfirmasi terlebih dahulu sehingga pesan-pesan negatif tentang substansi RUU P-KS tidak menjadi hoax. Informasi tersebut dapat dilihat melalui website DPR-RI dan Komnas Perempuan;

3. Para pihak yang mengkritisi RUU tersebut untuk mendialogkan dan mendiskusikan diantaranya bersama DPR RI, Komnas Perempuan, jaringan masyarakat sipil yang relevan yang selama ini mendampingi kebutuhan korban atas akses keadilan;

4. Panja Komisi VIII DPR – RI untuk tetap fokus membahas RUU Penghapusan Kekerasan Seksual sebagai regulasi yang mengatur jaminan perlindungan negara terhadap para korban yang mengalami kekerasan seksual;

5. Pemerintah tetap berkomitmen untuk melakukan upaya-upaya dalam rangka mempercepat proses pembahasan dan pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual di DPR.

Narasumber:
Mariana Amiruddin, Komisioner (081210331189)
Sri Nurherwati, Komisioner (087887233388)
Imam Nahei, Komisioner (082335346591)
Nina Nurmilla, Komisioner (085814479624)

Penulis : Komnas Perempuan

Related Posts:

"PERADABAN PAPUA" - Siapa yang tabur, Siapa yang menuai

Mungkin saat ini, banyak orang di negeri ini masih menganggap orang Papua masih primitif, telanjang, masih makan manusia, bodoh dan lain-lain. 
Saya ingat suatu masa ketika berstudi di salah satu universitas ternama di Indonesia. Seorang mahasiswa di universitas itu bertanya ke saya, "pasalnya dari mana? Sa dari Papua. Ohh Papua itu di Timika kah?. Terus.. katanya di Papua masih makan manusia kah?.  

Kedua pertanyaan itu membuat saya duduk tersenyum saja. Dan berpikir sekolot itukah pikiran, pandangan dan pengenalan mereka tentang Papua. Namun, dalam kedua pertanyaan itu tersirat makna bahwa. Papua secara sumberdaya alam, penting bagi Indonesia, karena Timika kota emas dan tembaga.  Dalam pertanyaan kedua, menunjukkan tidak pentingnya orang Papua bagi Indonesia. Sehingga perlu di basmi dari negerinya.

Mengingat kisah itu, saya punya pikiran pun melamun jauh ke Peradaban orang Papua, seandainya saat itu orang Papua belum mengenal Injil, yang dibawa oleh Ottow dan Geissler, 1855. Pasti Ottow dan Geissler, dan mahasiswa yang bertanya itu, sa su makan, karena orang Papua saat ini masih kanibal.

Sayangnya, Tuhan punya kehendak lain bagi orang Papua. Tanah Papua dan manusianya telah menerima meterai sulung dari doa yang di naikkan, 5 Februari 1855 oleh kedua Rasul Papua, di tepian pantai pulau Mansinam.
Doa sulung itu telah merasuki hati dan jiwa orang Papua, sehingga watak kanibalisme, pengayauan dan kebencian serta saling curiga, terurapi Roh Kudus Tuhan dan menjadikan manusia Papua memiliki Kasih yang tulus kepada Tuhan dan kepada Sesama manusia.

Ketika itulah peradaban baru manusia Papua mulai dibentuk, proses perubahan sosial terus terjadi dalam diri orang Papua melalui interaksi sosial. Tanah Papua terbuka bagi Injil, pendidikan dan kesehatan, yang dibawa oleh para Zending dan pemerintah Belanda. Para utusan Zending bekerja membuka lahan, membabat dan membakar serta menanam, pemerintah menuai hasilnya.

Saat itu, pemerintah Belanda terus membangun Papua, dengan kasih dan ketulusan hati, mulai dari pendidikan, kesehatan, pertanian, perkapalan, dan lainnya, di mulai dari Mansinam, Kwawi, Miei, Yende-Roon, Supiori-Biak, Serui-waropen, Sorong, Fakfak, Merauke, Jayapura, Paniai dan daerah lainnya, yang termasuk dalam 7 onderafdeling dan afdeling Nieuw Guinea, dimana manusia Papua berada menerima proses pengadaban.

Waktu itu tong lihat, orang-orang Belanda, Jerman yang datang kerja di Papua adalah para ahli teologi, sejarah, antropologi, sosiologi, kesehatan ekonomi, pertanian, teknik pembangunan, perkapalan, bangunan, pemerintahan dan lainnya. Mereka bekerja dan mendidik manusia Papua dengan kesungguhan hati dan ilmu pengetahuan yang dimiliki, untuk memanusiakan orang Papua menuju peradaban baru.

Bukti sejarah telah terukir, kerja dan karya Zending dan pemerintah Belanda, terus membekas dalam hati orang Papua. Sehingga orang Papua, tak pernah merasakan apa yang disebut dalam buku "sejarah Indonesia " Belanda telah menjajah Papua. 

Memasuki lorong waktu, Sa pu pikiran tertuju kepada masa integrasi. Tanah Papua menjadi buah bibir di kawasan Nusantara, Asia dan Dunia, antara Indonesia, Belanda dan Amerika. Mereka berdebat soal tanah Papua, dari konferensi ke konferensi sejak 1949. 

Hasilnya, Lahirlah Pepera, dengan merujuk kepada "New York Agreement" "one man one vote" untuk menentukan nasib Tanah Papua, orang Papua di abaikan. Proses infiltrasi pun berlangsung seiring seruan sang Revolusioner Bun Karno, "Trikora". Kehadiran Indonesia di tanah Papua, ditandai dengan lahirlah Universitas Cenderawasih, 1962, tepat perayaan hari Pahlawan, 10 November. 

Kelahiran Universitas Cenderawasih, merupakan awal peradaban Indonesia, di tanah orang Papua yang kaya dan subur, penuh susu dan madu. Sehingga proses Pepera tahun 1969, berubah wujud menjadi Perwakilan dan Musyawarah-Mufakat untuk satu tujuan yaitu; "Menganeksasi Tanah Papua kedalam NKRI"

Konflik dan proses genosida serta kapitalisme Indonesia di atas Tanah Papua terus berlanjut di berbagai aspek. Penanaman nasionalisme Indonesia berlangsung dimana-mana, mulai dari dunia pendidikan, kesehatan, sampai kepada penamaan tempat dan jalan-jalan, tertera nama para pahlawan yang mati di Nusantara, prasastinya tertanam di bumi Cenderawasih. Seakan merekalah tuan tanah.

Tahun-tahun yang silam, bila di kenang, tak ada sukacita di hati. Namun harapan tak sirna, karena idealisme tetap hidup dalam darah dan daging. Namun falsafah "I.S.Kijne,  menjadi kekuatan iman yang teguh untuk sebuah perjuangan. "Walaupun saat ini banyak orang akan datang dengan segala kepandaian dan pengetahuan yang tinggi, namun mereka tidak akan berbuat apa-apa, kecuali orang Papua Bangkit memimpin bangsanya sendiri", dengan tetap berpegang pada Injil Kristus batu Penjuru, sebagai nahkoda sejati yang akan menentukan Arah dan Angin kemana manusia Papua akan mendapati daratan dan pesisir, gunung dan lambah, hulu dan hilir, hingga ke penjuru dunia, yang mengherankan.

Tentu...tentu... tentu.. pasti di genapi seperti Injil Kristus yang telah mempersatukan orang-orang hitam di negeri "Bird of Paradise", asalkan manusia Papua hidup,  taat, setia, bersatu dan dengar-dengaran. Bangkit dan terus berjuang menjaga dan menggarap kebun anggurnya sendiri, meninggal kebiasaan miras, narkoba, dan seks bebas. Hidup rukun di Kota Emas.

Hari ini, 5 Februari 2019, 164 tahun Injil bertahta di Tanah Papua, mengingatkan kita kepada pusara-pusara tua tak terawat, di pulau dan pesisir, di gunung dan lembah, di hulu dan hilir, jejak-jejak para Zending, Guru Injil, Guru Jemaat, Pendeta, Penatua dan Syamas, serta para Amtenar, petugas kesehatan dan lainnya, yang berasal dari Belanda, Jerman, Sangihe Talaud, Ambon dan Papua, telah berjasa membuka Pintu orang Papua. Dari gelap, menuju terang.

Seperti fajar merekah di ufuk timur, ketika itulah wajah Kristus Yesus, memberkati setiap langkah-langkah hidup manusia Papua dan umat kepunyaanNya di bawah matahari. Dan akhirnya, saya mengucapkan selamat merayakan HUT-PI KE-164, 5-21855 - 5-2-2019. Tuhan berkati tong semua.

Penulis : Albert Rumbekwan

Related Posts:

"Saya yakin suatu saat anak-anak Korowai akan bisa sekolah sama seperti anak-anak di kota"


Jayapura,-- Bahagia terasa saat tahu anak-anak perempuan terus berusaha untuk melanjutkan sekolahnya.  Masih teringat jelas,  waktu awal kelas 1 bagaimana susahnya mereka belajar mengenal huruf dan angka, belajar membaca dan juga berhitung. 


Saat ini mereka sudah ada di kelas 4, dan saya terinspirasi untuk menolong mereka setidaknya memastikan mereka tetap bisa selesaikan sekolah.  Mereka mengingatkan saya pada anak-anak muridku di hutan rimba sana yang masih merindukan sekolah dan masa depan mereka.  Saya yakin suatu saat anak-anak Korowai akan bisa sekolah sama seperti anak-anak di kota. Demikian cerita singkat dari Imelda Hendrieta salah seorang guru di SD YPK Kanda.

Penulis : Gerrard - Jurnalis Warga Kota Jayapura
Dikutip dari - Facebook Imelda Hendrieta

Related Posts:

organisasi Independent Youth Forum Papua mengadakan kegiatan "FIND OUT YOUR RIGHT

Jayapura,- Organisasi Independent Youth Forum Papua mengadakan kegiatan "FIND OUT YOUR RIGHT", Kamis (31/01)  yang bertempat diKedai Boogie Kotaraja yang melibatkan siswi dan mahasiswi dari 3 sekolah 2 universitas dan 3 komunitas diantaranya SMK N 2 JAYAPURA , SMA N 1 JAYAPURA , SMA MUHAMMADIYAH , FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNCEN , UNIVERSITAS OTTOW GEISLER , KOMUNITAS KITONG BISA , KOMUNITAS SAHABAT YOSUA , dan KOMUNITAS HIJABERS JAYAPURA

Hasil kreativitas peserta kegiatan
Sebagai peserta, dengan tujuan memberikan informasi dan pemahaman tentang Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) kepada perempuan yang rentan menjadi korban dari kekerasan serta menjalankan rencana tindak lanjut dari Advocacy Training For Youth dan agar para perempuan tidak takut untuk menunjukan bahwa mereka memiliki hak-hak,yaitu :

- Hak atas kebebasan berkumpul
- Hak atas kerahasiaan pribadi
- Hak untuk hidup
- Hak atas kesetaraan
- Hak untuk memutuskan memiliki anak
- Hak atas keamanan dan kemerdekaan
- Hak atas perlindungan dan pelayanan kesehatan
- Hak untuk bebas dari penganiyayaan dan diskriminasi, dll

Penulis : Vinica Jenis Vinlovan - Jurnalis Warga Kota Jayapura

Related Posts: