Tender Gagal, Puluhan Ribu ODHA TERANCAM Putus Obat



Situasi pengadaan obat ARV di Indonesia saat ini telah terjadi krisis khususnya untuk obat Fixed Dose Combination (FDC) Tenofovir/Lamivudine/Efavirenz (TLE). Pengadaan tender obat ARV jenis ini gagal, akibat tidak adanya kesepakatan harga antara pemerintah dan perusahaan farmasi yang memiliki ijin edar obat tersebut yaitu PT. Kimia Farma dan PT. Indofarma. Selama ini, harga obat ARV jenis TLE yang dibeli pemerintah Indonesia sangat mahal. Ini adalah harga beli obat ARV yang tertinggi di dunia. Berdasarkan data yang dikumpulkan LSM IAC, harga beli pemerintah untuk obat ARV jenis TLE ini tercatat di tahun 2016 mencapai harga Rp 385 ribu per botol. Sementara, berdasarkan dokumen resmi dari agen pengadaan internasional, harga obat ini di pasaran Internasional hanya berkisar US$ 8,9 per botol (sekitar Rp 115 ribu per botol). Artinya, ada selisih sekitar Rp 270 ribu per botol keuntungan yang masuk ke perusahaan BUMN farmasi selama ini.

Kegagalan tender ini menimbulkan kekhawatiran di antara ODHA, berdasarkan pantauan ARV Community Support dari IAC telah terjadi kekosongan obat jenis ini dibeberapa daerah. Meskipun pemerintah telah mencoba untuk mengantisipasi dengan membeli buffer, namun ketersediaannya hanya bisa bertahan sampai Maret atau April 2019. Hal ini menimbulkan kecemasan putus obat bagi sekitar 48.000 ODHA yang meminum ARV jenis ini. Merespon situasi ini IAC berinisiatif mengadakan konferensi pers sebagai bagian dari advokasi pengadaan dan ketersediaan obat ARV bagi ODHA di Indonesia.

Indonesia AIDS Coalition bermaksud mengundang media untuk konferensi pers terkait dengan akses terhadap obat yang akan dilaksanakan pada :
Hari Kamis,tanggal 10 Januari 2019 bertempat di Ashley Hotel,Jl.KH Wahid Hasyim No.73-75, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat.



Penulis : Gerrard - Jurnalis Warga Kota Jayapura

Related Posts:

0 Response to "Tender Gagal, Puluhan Ribu ODHA TERANCAM Putus Obat"

Post a Comment